Denpasar - Berdasarkan data Laboratorium Biomedik dan Biologi Molekuler Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, menunjukan hampir seluruh korban terduga rabies di Bali yang meninggal tidak mendapatkan Vaksin Anti Rabies.
Walaupun terdapat 2 korban terduga rabies yang meninggal mendapatkan VAR namun tidak mendapatkan vaksin VAR secara lengkap.
Kepala Laboratorium Biomedik dan Biologi Molekuler Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Prof I Gusti Ngurah Mahardika, mengatakan seharusnya ditengah penularan rabies yang telah ditetapkan dalam status Kondisi Luar Biasa (KLB) masyarakat tidak memandang remeh penularan rabies. Sehingga upaya pertolongan dapat secara cepat dilakukan dan korban meninggal dapat diminimalisasi.
”di jaman KLB kayak gini masih ada masyarakat yang tidak waspada pada rabies, digigit anjing masih dianggap biasa” tegas Prof I Gusti Ngurah Mahardika yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (12/8)
I Gusti Ngurah Mahardika menambahkan Pemprov Bali seharusnya cepat tanggap dan mengingatkan masyarakat untuk tidak memandang remeh kasus rabies, apalagi Bali telah masuk status KLB.
Sementara Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bali hingga kini tercatat 74 orang meninggal setelah digigit anjing. Namun dari hasil pemeriksaan laboratorium hanya 35 orang yang dinyatakan positif rabies.(Mul)
Artikel ini ditandai dengan tag anti rabies, Vaksin Anti Rabies (VAR)