Pak ji a lei

vpOleh: Etik Juwita

Kemarin siang, Hong Kong panas benar. Saya duduk-duduk di depan Patung Ratu Victoria Park, di sebelah halte depan perpustakaan umum. Bersama saudara saya makan mie ayam sambil celingak-celinguk, bicara ngalor ngidul, sekali-sekali menjawab “mboten, Mbak’e” pada setiap kawan yang melintas menjajakan bakso, rempeyek, macam-macam makanan ringan khas Indonesia.

Di sekitar kami ramai lalu lalang orang, baik buruh migran maupun orang lokal. Di Victoria Park ada event marathon yang sedang diselenggarakan di tengah-tengah lapangan taman. Di antara yang ramai itu, hilir mudik di sekitar kami ada juga beberapa gadis menyebar selebaran. Orang-orang muda sekitar 20 tahunan, gadis-gadis lokal tentu saja.

Saya asyik saja terus mengunyah, pun ketika ada semacam keributan di dekat kotak sampah daur ulang, beberapa meter dari tempat kami duduk-duduk. Kami hanya membicarakan gerombolan yang sedang ribut itu dengan menganggapnya hal biasa saja, semacam eyel-eyelan ringan. Saya dan saudara saya baru menganggap ribut-ribut itu sesuatu yang serius ketika seorang Mbak yang menjajakan makanan ringan melayani seorang kawan buruh migran yang duduk di sebelah saya, jarak kami sekitar satu meter, bicara tentang ribut-ribut itu.

Mbak penjual itu mengatakan bahwa kawan-kawan buruh migran yang sedang duduk-duduk di dekat kotak daur ulang itu sedang dituduh mengambil handphone milik seorang lokal, serombongan dengan gadis yang saya sebut sebagai penyebar selebaran.

“Yang dituduh tidak terima, dan menyuruh orang China itu memanggil polisi kalau memang mau memanggil polisi.” kata mbak penjual itu.

Saya agak terkesiap juga. Di tengah ramainya event marathon dengan banyaknya polisi yang kini hilir mudik di sekitar taman, tentu bila benar polisi hendak dilibatkan, situasi akan ramai.

Begitulah. Beberapa menit kemudian beberapa polisi datang, saya mendekat mencoba ingin mengerti duduk persoalannya. Saya menangkap tiga orang kawan buruh migran bicara dengan bahasa Kantonis yang sangat lancar, berdiri kokoh, mata lurus tepat pada polisi-polisi yang bertanya dan pada dua orang gadis lokal, bergantian, dengan emosi tinggi. Tidak ada tanda-tanda kawan-kawan buruh migran itu mau mengakui ada yang mengambil handphone.

Ketika datang polisi perempuan yang kemudian menggeledah tas kawan-kawan migran itu, seorang kawan migran yang lain, yang sedang melintas dan tahu persoalan penuduhan itu, seorang kawan buruh migran perempuan berpenampilan tomboi, tiba-tiba, mengomandoi kawan-kawan migran yang sedang duduk-duduk bergerombol-gerombol di sekitar situ, mungkin berjumlah hampir seratusan orang, untuk turut serta menyediakan tas tangannya masing-masing untuk digeledah. Suaranya lantang kira-kira begini: “So, kita pembantu-pembantu dikira suka mencuri hp! Ayo geledah. Geledah semua tas-tas kami!” teriaknya. Saya takjup luar biasa!

Saya yakin seyakin-yakinnya tidak banyak kawan-kawan migran itu yang mengenal kawan yang sedang digeledah tasnya oleh polisi-polisi itu. Saya juga yakin tidak banyak yang mengenal kawan migran yang memberi komando itu. Tapi menyaksikan kawan-kawan, hampir semua berdiri dan mengacungkan tas tangan masing-masing, saling bicara keras dengan berteriak huuu huuuu huuuu, hanya ada satu pikiran saya; rasisme di Hong Kong ini, yang sempat saya anggap tidak terlalu ada ternyata sungguh-sungguh sangat menyedihkan. Teriakan solidaritas kawan-kawan itu bentuk ketidakpuasan yang saya yakin berangkat dari sebuah jurang antara migran dan penduduk lokal.

Bila saya mencoba mengingat lagi peristiwa kemarin itu, ada hal-hal yang masih saja mengejutkan. Saya masih saja kaget, lagi dan lagi, ribut-ribut yang saya tidak coba dengarkan tadi, ternyata setelah saya tanyakan pada Mbak Ratri (seorang kawan yang kena tuduhan mencuri handphone) begini:

Orang Lokal (OL): “..Hei, kamu lihat handphoneku…??”
Mbak Ratri (MR): “Tidak.  Emangnya kamu letakkan di mana?”
OL: “Di situ, di belakangmu”
MR: “Aku tidak tau.”
OL: “Alah, aku yakin kamu yang mengambilnya”
MR: “Tidak. Kalau sampai aku mengambil handphonemu, aku tidak punya muka.”
OL: “Memang kamu tidak pernah punya muka”
MR: “Hei, cantik. aku memang pembantu. tapi bukan kamu saja punya muka, tahu?! pak ji a lei !!!!*

Saya, kemudian berpikir misalkan saya yang berada di posisi Mbak Ratri, saya pasti tidak bisa berbuat seberani Mbak Ratri. Saya pasti tidak bisa menjawab sebuah penghakiman yang merendahkan begitu. Bukan saya suka menerima suatu keadaan tanpa protes, bukan juga karena saya lebih suka diam daripada mendebat orang. Tapi karena alasan simpel; sejak awal bekerja di Hong Kong, saya sudah memutuskan untuk tidak mempelajari bahasa orang lokal.

Saya memutuskan untuk tidak mau dibuat repot dengan bahasa lokal sama sekali. English, please. Take it or leave it.

Sampai kini, saya tidak menyesali keputusan saya ini. Ya, sama seperti gadis-gadis muda itu, yang saya kira sudah membedakan diri dengan generasi sebelum mereka dengan tidak bersikap rasis, saya pun, jangan-jangan sedang membangun benteng dan berpegang kuat pada pagar itu: kita beda, kamu dan aku! Saya yakin Anda sedang mencibir sikap kuno saya ini. Saya terima…

***

*Pak ji a lei, bahasa Kanton yang berarti “bangsat kau!”


Artikel ini ditandai dengan tag


Tinggalkan Komentar Balasan