Denpasar - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memperkirakan puncak fenomena cuaca antariksa berupa flare atau yang lebih dikenal sebagai “badai matahari” akan terjadi pada Oktober 2013. Perkiraan ini diperkuat dengan analisis dari para pakar astronomi dunia yang memperkirakan puncak badai matahari akan terjadi pada pertengahan 2013.
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN, Clara Yono Yatini di Denpasar, Selasa (9/3) mengatakan prediksi tersebut salah satunya didasarkan pada peningkatan aktivitas matahari yang menyebabkan terjadinya peningkatan suhu bumi dan banyaknya jumlah bintik hitam yang terlihat pada permukaan matahari.
Menurutnya semakin banyak bintik hitam yang terlihat maka semakin banyak juga terjadi ledakan di permukaan matahari.
Menurut Clara, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban manusia tetapi memberikan efek bagi kehidupan seperti gangguan pada satelit dan komunikasi radio.
“akan banyak sekali partikel bermuatan seperti proton dan elektron yang akan dilontarkan ke ruang angkasa dan kalau itu mengenai satelit itu akan mengakibatkan kerusakan pada satelit” ungkap Clara Yono Yatini kepada Selebzone.com.
Clara Yono Yatini juga menyebutkan bahwa fenomena badai matahari pada dasarnya merupakan siklus yang berulang dari aktivitas matahari, dimana matahari melontarkan milyaran ton partikel, plasma berenergi tinggi dan radiasi gelombang elektromagnetik. Fenomena ini pernah dirasakan di Indonesia pada tahun 2000, 2003 dan 2005 lalu, dimana terjadi gangguan komunikasi.(Mul)
Artikel ini ditandai dengan tag badai matahari, LAPAN