oleh:
Kanyakamitra*
Sore itu seperti hari-hari yang lalu, aku duduk merenung sendirian di pojok bastion Benteng Kalamata. Suatu kebiasaan yang aku jalani semenjak aku datang di Ternate, duduk manatap Pulau Tidore dan Pulau Maitara didepan Benteng Kalamata yang masih berdiri kokoh menahan deburan gelombang laut yang menghantam setiap saat.
Di tempat inilah pada 1810 M, Inggris menyerang Belanda dan menimbulkan banyak korban jiwa. Benteng yang kokoh dan enak buat tempat kita ngobrol dan berbagi. Di Benteng ini pula aku menemukan asa yang telah lama menghilang entah kemana.
Aku merenung di pojok bastion benteng… Ingatanku melayang ketika dua tahun silam, saat menginjakkan kakiku di pulau Ternate. Ya, sebuah pulau yang bersejarah yang menjadi rebutan kaum imperialis barat sejak abad 15.
Aku tidak menyangka akhirnya aku menemukan dirimu dan juga teman-teman yang bisa berbagi bersama.
Terus terang, semula aku tidak mempunyai gambaran apapun tentang keadaan Pulau Ternate, dan propinsi Maluku Utara. Tidak juga berita kerusuhan awal 2000 lalu.
Aku sudah bertekad akan memulai segalanya dengan bersungguh-sungguh. Dan di pulau ini pulalah aku menemukan dirimu, seseorang yang kemudian banyak menemaniku kala jenuh dengan rutinitas kerja yang membosankan. Ya, mungkin lebih tepatnya,.. teman dalam suka dan duka…
Namun semua itu sudah tidak pernah kita lakukan lagi, ya…semenjak benteng Kalamata dirantai dan dikunci. Rantai yang menggambarkan kekuatan sang penguasa yang sewenang-wenang. Benteng Kalamata sekarang sunyi, hanya debur ombak lautan yang sering menghempasnya, tiada lagi canda tawa, dan nyanyian teman-teman, juga obrolan yang kadang-kadang sering membuat merah kuping para penguasa. Benteng Kalamata, satu dari sekian Benda Cagar Budaya yang masih dapat dikatakan terawat baik, dibandingkan dengan yang lain di Propinsi Maluku Utara.
Ya itu dulu, kala kita masih bersama-sama. Jarak, waktu dan kesibukanlah yang membuat kita semakin jauh dan jarang bisa berkumpul kembali. Dan kini aku merindukan suasana seperti dulu lagi,..
“Kapan ngoni balik kembali?,” tanyaku waktu terakhir kita berbincang di Kalamata.
“Ya dua tahun lagi, nggak lama to?,” jawabmu ketika itu.
“Lagian sampeyan juga mo menyusulku kan tahun depan?”.
“Insyallah, kalau diijinkan, aku juga ingin berangkat kog, siapa yang nggak kepingin studi S2?,” jawabku.
Yah memang dua tahun waktu yang bisa dikatakan lama tapi juga kadang terasa singkat. Akhirnya kebersamaan kita harus berpisah jarak dan waktu demi meraih cita-cita. Kamu berangkat studi S2 di Yogya, sedangkan aku masih berkutat dengan pekerjaan yang masih menumpuk di Ternate.
Sore itu, aku melepasmu di dermaga pelabuhan Ahmad Yani Ternate, kamu terlihat senang sekali, bersemangat untuk meraih cita-citamu. Dan berjanji untuk sesegera mungkin menyelesaikan studimu, hingga kita bisa bersama lagi. Around dan nongkrong di sweering sampai larut malam, makan papeda di Gamalama, dan juga batobo di hall. Kulepas dirimu dengan segala kenangan yang ada tentangmu. Ya aku akan menunggumu disini.
Senja itu, aku nikmati kesendirianku di antara sunyinya suasana benteng Kalamata, aku mengingat semua tentangmu, kebersamaan kita dan cita-cita kita yang ingin studi terus sampai tua.
“Paitua, aku masih pengin sekolah terus, syukur bisa S3, biar semakin bermanfaat bagi bangsa ini,” ujarmu suatu sore.
“Yup, selagi masih muda dan ada kesempatan, ga ada salahnya to, bercita-cita yang tinggi?” balasku,..
Gantungkan cita-citamu setinggi langit, begitu kata pepatah. Aku kagum akan semangat juangmu, jauh-jauh dari Pulau Jawa, meninggalkan keluarga demi sebuah cita_cita dan harapan. Cita – cita memajukan anak-anak bangsa di bumi Indonesia tercinta. Tentunya ibu Kartini akan bangga padamu.
Ya, sore itu aku masih berada di Kalamata, tempat yang menyimpan banyak kenangan kita. Kadang dirimu suka berkata, “Ah dasar arkeolog, tempat nongkrongnya kog ngga jauh-jauh dari batu dan benda sejarah.”
“Tapi suka kan?,” balasku.
“Wah ternyata enak yo mas, nongkrong disini?,”
“Halah, katanya kemaren seram, sekarang bilang enak,”.
“Lha kan dari luar kelihatan menakutkan e mas?”,. Makane tak kenal maka tak sayang, kenali warisan nenek moyang, baru bisa merasakan nikmatnya mengunjungi tempat bersejarah,”.
“Dasar arkeolog ada aja ngelesnya, he…he…,”.
“Mas, pintunya mau saya kunci, sudah maghrib,” kata penjaga benteng membuyarkan lamunanku. Akupun tergagap bangun dari lamunanku.”
“Oh, maaf pak, ini saya juga mau pulang,” jawabku sambil memasukkan kamera kedalam daypack yang setia menemaniku selama ini. Dalam hatiku aku berkata, akan kutunggu dirimu di Kalamata, supaya kita bisa jalan bersama lagi.
Ternate April 2008,
***
Buat kawan2 Mata Hati, kapan kita bisa bersama lagi di Kalamata…?
***
Artikel ini ditandai dengan tag Benteng Kalamaka, Kanyakamitra
maaf, yang nulis siapa ya..? bisa tahu identitasnya..? pasti pak maman yang dimaksud.
dimana dia ya..? ada cpnya gak..?
kapan ngumpul lagi di benteng..?