Ubud – Penerapan fair trade dalam usaha kerajinan oleh Mitra Bali sendiri berdampak pada diakuinya peran perajin perempuan di Bali.
Sebab dalam usahanya, Mitra Bali tidak hanya memberikan kesempatan pada perempuan untuk ikut serta menjadi perajin namun juga terlibat dalam pengambilan keputusan.
Ni Ketut Rami, 36 tahun, perajin dari Banjar Samu, Sukawati, Gianyar misalnya, kini tak hanya bertugas untuk mengurusi urusan dapur, kasur, dan sumur keluarga tapi juga terlibat dalam usaha kerajinan. Sejak tiga tahun lalu, Rami menjadi perajin dampingan Mitra Bali.
Bersama suaminya, I Nyoman Sabar, Rami membuka usaha kerajinan tersebut di rumahnya. Semula Rami bekerja untuk perajin perak di Celuk, salah satu pusat usaha kerajinan perak di Bali.
Dari yang semula bekerja untuk orang dengan pendapatan tidak tentu, paling banyak Rp 500 ribu, kini mereka bisa memutar uang dengan cara berkelanjutan.
Sebagai istri, Rami kini bisa memperoleh sumber penghasilan bersama suaminya. Dia tidak dibedakan dari sisi penghasilan hanya karena dia perempuan. Rami kini juga terlibat dalam penentuan masalah pemesanan barang ataupun pengelolaan usaha.
“Kalau dulu kan saya hanya terima beres dari suami,” kata Rami.
Keseteraan laki-laki dan perempuan adalah salah satu prinsip dari sepuluh prinsip gerakan fair trade.
Prinsip lainnya adalah mengentaskan kemiskinan, meningkatkan keterampilan, menyosialisasikan perdagangan berkeadilan, keterbukaan dan pertanggungjawaban, pembayaran yang layak, lingkungan kerja yang nyaman, tidak menggunakan pekerja anak, menjaga kelestarian lingkungan, serta peduli pada masalah sosial.
Pentingnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tersebut, menurut Gung Alit, dikaitkan dengan pengupahan antara perajin perempuan dan perajin laki laki.
“Di lapangan masih banyak terjadi perbedaan pengupahan dan penghargaan atas karya perajin perempuan.” papar Gung Alit.
“Melalui gerakan fair trade dan kegiatan Pesta Desain Perajin Perempuan ini Mitra Bali berharap, peran perempuan Bali khususnya kalangan perajin perempuan ke depan menjadi lebih baik dan lebih setara tentunya,” tuturnya.
Menurut Agung Alit ditengah hiruk pikuknya era global ada baiknya kita berpaling sejenak pada gerakan fair trade.
Gerakan ini, lanjutnya, lahir sebagai bentuk penyikapan atas kebijakan dan praktik perdagangan dunia yang berorientasi pada ekonomi pasar bebas.
Para pendukung fair trade percaya, bahwa pasar bebas atau free trade hanya melahirkan jurang pemisah yang tajam antara si kaya dan si miskin dan antara negara kaya dengan negara miskin.
“Di sini pula arti penting kehadiran gerakan fair trade,” kata Gung Alit.(Luh D)
Artikel ini ditandai dengan tag World Fair Trade Organization (WFTO)