Bermula dari hobi memancing, Diyano Purwadi menemukan komunitas yang sangat marginal dan nyaris tak terlihat di peta realitas sosial Bali pada abad 21. Kegemaran memancing telah mengantarkan perupa ini ke areal bekas tambang bahan bangunan di pedalaman pulau Bali, tempat lubang-lubang bekas galian berubah menjadi kolam-kolam yang penuh ditumbuhi enceng gondok dan banyak ditinggali ikan air tawar.
Di sana ia mendapati bahwa penghuni areal bekas tambang itu ternyata bukan hanya ikan-ikan gemuk, tetapi juga sekelompok warga miskin yang bertahan hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Mereka adalah orang-orang dari luar pulau Bali (khususnya Lombok) yang dulunya datang untuk mencari sesuap nasi di proyek penambangan bahan bangunan.
Setelah proyek ditutup, sebagian dari para pendatang itu tetap bertahan di sana, meski didera kesulitan hidup yang sangat berat. Alasannya cukup jelas: kehidupan di kampung-halaman bahkan lebih buruk daripada kondisi susah mereka sekarang.
Anggota komunitas di areal bekas tambang itu sebagian besar adalah para perempuan berusia separuh-baya. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan dan tinggal di gubug-gubug bobrok yang sangat tidak layak sebagai tempat tinggal manusia. Pekerjaan apapun mereka lakukan untuk sekadar menyambung hidup, misalnya menjadi buruh kasar pengayak pasir. Sama sekali terabaikan dan tidak memiliki akses apapun untuk menjangkau kehidupan yang layak, bahkan seolah tak punya hak sebagai warganegara yang sederajat dengan warga sebangsa lainnya, mereka adalah golongan pariah dalam struktur masyarakat Bali kontemporer. Mereka benar-benar terpinggirkan secara sosial, ekonomi, kultural dan politis.
Pameran Song of Hut (Nyanyian Gubug) menyajikan karya lukis, instalasi dan video yang dihasilkan dari interaksi intensif Diyano Purwadi dengan komunitas miskin di kawasan eks-galian tambang di pedalaman Bali selama hampir dua tahun. Interaksi dilakukan Diyano Purwadi secara spontan, tanpa pretensi “heroik” untuk memperjuangkan rakyat tertindas seperti lazimnya misi lembaga swadaya masyarakat (NGO).
Diyano menyadari betul bahwa kemampuannya sebagai perupa, yang bergerak secara personal dituntun hati nurani semata, sangat terbatas. Tetapi ia juga tidak ingin mengeksploitasi mereka sebagai objek dalam kerja seni rupa. Ia bergaul akrab dengan mereka, kemudian perlahan-lahan memperkenalkan aktivitas seni rupa kepada mereka, dengan memakai bahan-bahan yang disediakannya atau diambil dari lingkungan sekitar.
Diyano menjalin hubungan dialogis dengan para penghuni areal bekas tambang itu. Mereka diajak melukisi dinding gubug, mengubah sebagian gubug menjadi karya instalasi, membuat patung dari ilalang dsb. Tujuan utamanya untuk membuka wawasan mereka bahwa ada sebuah “dunia lain” yang sebelumnya tak pernah terlintas di benak mereka: seni rupa. Seni rupa diperkenalkan sebagai sebuah pengalaman baru di mana mereka dapat memaknai dan menyegarkan kehidupan sehari-hari di tengah kondisi prihatin dan kerasnya perjuangan hidup.
Aktivitas seni rupa membuat mereka terhibur dan memperoleh saluran ekspresi baru di tengah tekanan kesulitan hidup, dan ini berarti memompakan energi, daya-hidup dan harapan baru ke jantung komunitas marginal itu. Namun demikian, Diyano tidak melupakan kebutuhan real mereka. Ia juga berupaya semampunya membantu kelangsungan hidup sehari-hari mereka, antara lain dengan sesekali memberikan sembako, atau jaring untuk menangkap ikan di kolam-kolam bekas galian tambang.
Karya-karya Diyano Purwadi dalam pameran Song of Hut tercakup dalam apa yang diistilahkan kritikus Lucy R. Lippard dari Amerika Serikat sebagai “seni rupa aktivis” (activist art). Menurut Lippard, seni rupa aktivis berlandaskan pada subversi dan pemberdayaan, serta bergerak di dalam maupun di luar benteng budaya tinggi (high art) atau “dunia seni rupa” (art world). Ragam seni rupa ini kadang-kadang disebut pula sebagai “gerakan untuk demokrasi budaya”, karena secara langsung atau tidak langsung mengkritik homogenitas budaya dominan yang melayani kepentingan segelintir elit saja, tetapi mempengaruhi kehidupan orang banyak.
Seni rupa aktivis berbeda dari seni rupa politis. Seorang perupa “politis” menciptakan karya yang tema maupun konteksnya merefleksikan isu sosial, biasanya dalam bentuk kritik ironis. Jika seni rupa politis cenderung menyuarakan kepedulian sosial melalui komentar atau analisis, seni rupa aktivis condong kepada keterlibatan sosial dengan menekankan proses yang dilalui perupa bersama komunitas. Dalam konteks seni rupa di Bali dewasa ini, contoh seni rupa politis cukup banyak. Sebut saja karya Tatang BSp, atau sebagian karya Mangu Putra yang mengangkat potret masyarakat-bawah dari desa terbelakang di pelosok Bali. Namun demikian, praktik seni rupa aktivis seperti yang ditekuni Diyano Purwadi tergolong langka.
Dalam memraktikkan seni rupa aktivis, Diyano Purwadi berpegang pada pandangan tentang seni sebagai pertukaran komunikatif. Ia membawa aktivitas seni rupa ke komunitas miskin di areal bekas tambang. Di sana, seni rupa dipahami dalam artinya yang paling luas sebagai bentuk kegiatan kreatif dan rekreatif yang dapat diikuti dan dinikmati oleh khalayak yang paling awam. Aktivitas seni rupa dijadikan sarana dialog yang saling menstimulasi antara perupa dan komunitas yang terpuruk dan ternistakan ini.
Berbagai narasi komunitas marginal yang selama ini tidak terartikulasikan, direpresi di lapisan “bawah-sadar” masyarakat umum, berangsur-angsur terungkapkan di sepanjang proses dialog. Sebagian dari narasi-narasi pinggiran tersebut kemudian dituturkan-kembali oleh Diyano dengan bahasa visual-estetik yang spesifik dan canggih, untuk dikomunikasikan kepada publik seni rupa di ruang pameran. Song of Hut menyampaikan visi dan aspirasi Diyano Purwadi, tetapi sekaligus menggemakan suara komunitas yang terlibat dalam proses menuju terciptanya karya-karya yang dipamerkan.
Sebagaimana lazimnya karya seni rupa aktivis dan seni rupa politis, karya-karya Diyano Purwadi dalam pameran ini bermuatan kritis. Sebagai seni yang terlahir dari kontak dan interaksi, karya-karyanya berwatak hibrid, produk dari komunikasi antara dua budaya yang berbeda secara horisontal maupun vertikal: “budaya tinggi” seorang perupa profesional terpelajar dan “budaya rendah” kaum papa tak berpendidikan yang mendiami sisi gelap bangunan sosial. Dengan hibriditas yang mengaduk humor dan ironi, tata dan keliaran, kesederhanaan dan kerumitan, kewarasan dan kegilaan, karya-karya Diyano Purwadi menyibakkan wajah-wajah dan suara-suara kalangan jelata yang tersisih dan tak berdaya: mereka yang dianggap tak ada, atau dipandang sebagai aib belaka oleh kelas berkuasa.
Song of Hut adalah nyanyian keprihatinan terhadap proses dehumanisasi yang bekerja di balik citra molek Bali beserta politik kultural yang menopangnya.
Arif Bagus Prasetyo, kurator, alumnus IWP University of Iowa, Amerika Serikat.
Artikel ini ditandai dengan tag Arif B. Prasetyo, Diyano Purwadi, Pameran Lukisan