Sajak Wayan Sunarta
setelah halimun
parasmu pupus
di pias danau
bara pada unggun kayu
masih sisakan birahi semalam
canda perkemahan
telah menyurutkan darah
yang mengalir deras ke urat malu
di pias danau, apa yang gagu
selain waktu yang menunggu
kepulanganmu
pagi itu, embun di pucuk pakis, benalu,
anggrek bulan, cemara dan danau
menduga telah terjadi sekutu
antara kau dan aku
lalu dari bongkah kerak kayu
kau ulurkan kenangan layu
“kayu itu suatu waktu
akan jadi perahu
yang mengantar ruhmu
ke tengah danau,” bisikku
namun parasmu telah pupus
sebelum mengaduh danau
setelah halimun bergulung turun
pengayuh perahu tiba
menjenguk cemas kita
tanpa suara ia menuntunmu
menaiki perahu
lalu mengayuhnya makin jauh
makin jauh…
2002
Artikel ini ditandai dengan tag Puisi, puisi jengky, puisi Wayan Jengky Sunarta