Oleh: Etik Juwita
Menatap wajahnya, kau akan merasa sedang melihat bulan. Angkuh, dingin, asing, sekaligus mendera. Tak dapat kau sentuh, tak mampu kau maki, tapi juga tak pernah akan membiarkan kau beristirahat sekejap, melupakannya. Membuangnya, meletakannya di suatu tempat terpisah dari hitungan detik, dari suatu ruang. Kau tak akan bisa, karena ia seperti bulan.
“Nama saya Darling. Saya sangat beruntung karena lahir di Hari Lautan Kasih.” katanya, ketika pertama kali saya menyapanya di sudut diam di Star Ferry, menatapnya saya mencoba mereka-reka perempuan yang telah mengumumkan dirinya butuh seseorang yang bisa dijadikan tameng untuk hidup di Hong Kong. Saat itu bulan baru memulai geraknya, menyembul dari ubun-ubun gedung-gedung raksasa di Pulau Hong Kong yang tampak seperti sekumpulan monster beringas. Wajah bulan, masih saya ingat waktu itu, pucat. Lampu-lampu pijar di pucuk-pucuk menara mercusuar yang angkuh menggagahi keanggunannya cuma laksana kerlip sayap kunang-kunang yang murung. Tapi di jarak tak terengkuh, bulan pucat yang dingin dan bersedih tampak kukuh, bukan cuma sekadar penanda malam, bukan cuma untuk menawarkan cerita duka memilukan. Tapi juga, mungkin, kehidupan. Seperti wajah bulat serupa bulan di sebelah saya, tampak sombong dan binal dengan penderitaan.
Bermalam-malam saya akan menantinya di sini, tidak selalu ada bulan di jauh sana, tentu saja. Tapi saya akan tetap ke sini. Wajahnya dan rupa bulan menjadi dua bentuk saling melengkapi. Saya yang sangat yakin dari sejak kanak-kanak bulan menyimpan sakit tapi juga keteguhan melihat jelas penderitaan itu di wajahnya, tanpa merintih. Di dirinya dan kisah tanpa tangisnya saya melihat keteguhan juga sekaligus kesombongan atas sebuah penderitaan. Saya setia menunggunya, menanti kisahnya. Cerita luka yang dibawanya setiap kali kami duduk berhadapan dengan wajah bulan.
“Bulan sedang ada di kurungan, tak apa kita tahu ia tetap ada, kan?” katanya ketika bulan tak muncul. Tentu saja salah saya yang semula dulu mati-matian meyakinkannya bahwa saya senang melihat bulan, bukan melihat dirinya, ketika ia menuduh saya telak bahwa saya datang ke Star Ferry karena ingin melihatnya diam, saya tak jujur padanya tentang kekaguman saya pada diriya. Ia pun, menyimpan kebohongan saya dengan tanpa mengeluh.
Tujuh malam menjelang pertemuan kami yang ke tujuh ratus, dia bilang tidak akan ke tempat biasa kami bertemu, di sudut Star Ferry. Ia bilang sedang membenci bulan. Saya kecewa, kecewa sangat. Saya merasa bulan di wajahnya sudah benar-benar payah, tidak binal lagi, tidak lagi menyimpan misteri. Membayangkan wajahnya, membayangkan bulan, saya merasa sangat sakit hati. Sebenarnya, tak ada dirinya, bila ada masanya bulan terang benderang, tak lebih seperti mengabarkan berita Star Ferry sedang berkabung.
Kabut tipis yang menutupi bulan seperti pekat awan mendung, seperti katarak yang mengaburkan pandangan mata-mata tua. Tanpanya, Star Ferry dan bulan tak ada artinya. Merunduk kepala saya tunduk, saya mencobamemaknai bulan di wajahnya. Mencoba mencari jawaban, bagaimana mungkin sewajah manusia bisa membentukkan pikiran, mengacaukanya untuk kemudian membiarkannya melihat sakit dan teramat parah? O… lalu saya melihatnya, tiba-tiba, duduk di sudut yang lain, di pojok yang lain. Menatap saya, seperti bulan.
“Ah, benar dugaku, kau datang juga rupanya. Apa kataku, karena aku lahir di Hari Lautan Kasih.”
“Asal kau tahu kau baru membuatku buta. Tak mampu melihat sekeliling, cuma bulan dan…”
“Dan aku. Hahah!”
Lihatlah! Saat dia tertawa bulan yang hilang tertutup awan berpindah ke wajahnya. Menunjukkan perih, menampakkan luka.
“Hyu Choo, besok aku pulang.” katanya setelah puas menampakkan kesakitan di kelip matanya, di gerak bibir, di bulat pipi yang dipulas bedak tipis, “Aku tak akan kembali”. Saya pernah menyiapkan diri, pernah melatih diri untuk kehilangan bulan. Tapi, bagaimana bisa kalimatnya seperti membawa kekuatan halilintar, menghanguskan wajah bulan di hati saya, hingga hitam dan menjadi abu? Bagaimana mungkin ia menciptakannya, merampasnya, merusaknya, dan menghilangkannya serta-merta? Kekejaman ini, o! bukankah cuma kerja tangan bulan? Bukan sekali, tidak tujuh belas kali ia mengulang kalimat laknat itu. Tapi biasanya, sejak yang pertama hingga sembilan belas kali ia lalu tertawa.
“Ah! Tertawalah! A Ling, kenapa diam?” saya marah padanya, sangat marah. Ia telah mati. Ia tidak pongah lagi, tidak binal, tidak bengal. Dukanya sudah usai, deritanya selesai, cerita dan kehidupannya sudah pada yang penghabisan.
Ia menatap saya, bibirnya merapat bergetar, matanya berkelip, menggenang, wajah A Ling basah. Biasanya, A Ling membenci tangis. Biasanya, A Ling meringis terterkikik bersamaan, bercerita tentang setiap laki-laki yang punya kemaluan sejari kelingking, tapi gegabah menghitung dolar. A Ling o A Ling! Sekiranya dia teramat gegabah kali ini hingga bisa merenggut bulan, misteri kekuatanmu dari saya dengan kejamnya?
“Hyu Choo, kenapa kita mesti berpisah?”
“A Ling, tetapi kamu tak harus pergi!”
“Aku lelah, A Choo.”
“Kita menikah.”
“Apa kataku, karena aku lahir di Hari Lautan Kasih!”
Saya kesal padanya, setiap kali ia tak pernah yakin pada apa pun sesuatu yang manis terjadi padanya. Tidak sekali pun. Yang ia yakini ia lahir di Hari Lautan Kasih. Kau percaya bahwa nasib baik seseorang bisa ditumpukan pada nama hari ia dilahirkan? Bodoh! Tentu saja A Ling seperti jadi si bodoh yang melihat kehidupannya sebagai sebuah alegori, nasib dan keadaan yang paling buruk ia nilai sebagai sesuatu yang memang harusnya begitu hari itu. Nasib baik dan menerima ungkapan cinta adalah sebuah segmen kecil karena pernah dilahirkan di Hari Lautan Kasih, hanya cerita kosong untuk meninabobokan manusia kecil belaka.
Saya tidak berusaha untuk menghilangkan pernderitaan yang selalu ia ceritakan ketika kami betemu di sudut Star Ferry. Tapi saya telah berkali-kali mengajaknya menikah. Saya tidak memaknai ajakan saya untuk mengangkatnya dari penderitaan, dari pelacuran. Saya tidak yakin saya akan mampu melakukan sesuatu yang heroik semacam itu. Saya bisa melihat, mendengar setiap kata kesakitan yang dideritanya seberapa pun lamanya. Namun, saya tak sanggup kehilangan bulan di wajahnya. Bagaimana saya bisa?
***
Sampai malam ke tujuh ratus, saya menantinya di sini. Persis di sudut di mana saya dan A Ling selalu bertemu. Saya duduk di kursi di mana selama ini A Ling duduk. Diam, saya mencoba menempatkan A Ling di sebelah saya. Mata bulatnya yang lebar dan berkaca-kaca, berkedip-kedip ditingkahi bulu lentik yang dibengkokkan maskara. Saya bayangkan ketika anak rambutnya jatuh membentuk garis-garis kecil melintang yang membelah wajahnya menjadi bagian-bagian manis yang menggemaskan. Saya bayangkan ucapan-ucapannya yang keras kepala.
Sehingga saya akan menatapnya dengan memohon A Ling agar bermurah hati mengusap dahi saya, merapikan rambut saya yang semrawut. Meraba sudut mata saya, mengelus pipi memainkan anak rambut di sekitar telinga saya, menyentuh bibir, dagu, dada… membiarkan saya merasai sensasi-sensasi dari setiap gerak jemarinya…
A Ling lalu menatap saya, redup bola matanya, menyudahi mimpi saya ia meletakkan bibirnya di pelipis, di bawah telinga, di bibir saya, cepat dan sekejap dan lalu meminta maaf. Saya angankan ketika A Ling menyembunyikan tangannya dalam saku jaket seperti melindunginya dari angin pantai yang dingin. Ia selalu merapat di samping saya, tapi juga menjaga saya untuk tidak melewati batas yang ia gariskan antara saya dan dirinya. Ia memaksa saya untuk terus-menerus membayangkan dirinya meski jarak kami tak ada satu senti. Kini A Ling telah lama pergi dengan menyembunyikan tangan juga dirinya yang utuh dari saya.
Jika mencintai kata A Ling akan mampu membenarkan yang salah, maka kesalahan saya adalah mencintainya. Membayangkan keangkuhan manusia bisa diartikan dengan ungkapan hatinya sekeras batu, tapi hati A Ling, gadis Indonesia saya, selunak karang. Menandatangani surat kontrak dengan berpura-pura menjadi majikannya, adalah kesalahan saya berikutnya. Membiarkannya cuma menemui saya setelah malam-malam yang melelahkan dan bau asap rokok yang memuakkan adalah luka yang ditorehkan A Ling pada saya.
Tapi saya yang memintanya untuk membelaskasihani saya, menemui saya tiap malam, selarut apa pun, seburuk apa pun ceritanya. Meski kadang saya harus melihat kilatan-kilatan matanya yang menyentak marah, seperti silau kilat yang bersumpah untuk membelah bulan menjadi keping-keping yang berserak. Lalu pecahannya seperti mencincang dada saya. Basah yang kemudian mengalir di wajah A Ling menggenang di luka saya seperti cuka, seperti cairan garam.
Lalu saya membentaknya seketika, “Nikahi aku!” Dan A Ling tertawa, mengagungkan kemujurannya lahir di Hari Lautan Kasih; “Ah, mestinya yang kotor memang dibersihkan, tapi yang bersih tak boleh kotor. Kasihan kau… Aku pergi dulu. Kalau kau mau, kau boleh datang lagi besok malam. Aku tak tahu jam berapa.”
Dan saya datang dan menunggunya.
Saya datang dan menantinya bahkan ketika ia tak meninggalkan pesan apa pun pada saya. Selat di Star Ferry tak berkarang, tak berbulan. Cuma muram, cuma suram…
Bangsat! Alegori A Ling, betapapun bagi saya tak lebih adalah tragedi.
***
Menatap bulan kini, saya tiba-tiba merasa A Ling telah benar-benar pergi. Bulan masih pucat, masih bersedih. Tapi sisa-sisa Star Ferry mendekati benar-benar mati. Sudut di mana A Ling saya biasa duduk sudah dibuang, diganti dengan risaunya manusia akan sesuatu yang lama barubah jadi kuno. Gedung-gedung raksasa yang biasa ditenggeri kunang-kunang murung bertambah banyak. Kabut tak sejenak pun melintas untuk berpindah, selalu menantang pandangan.
Perahu kecil yang sering terombang-ambing di riak yang kecil dan malas, yang sering menemani saya menanti A Ling pun sudah tak tampak, cuma suara-suara menyakitkan gendang telinga dari dubur perahu bermotor yang ada, tanpa jeda. “Hong Kongmu tidak baik hati ya A Choo?” A Ling waktu dulu meminta persetujuan saya. “Tapi ia membawamu ke sini. Dan kita bertemu, A Ling.” betapa pengecut saya untuk membiarkan A Ling tak bersimpati pada negeri saya, tak lagi peduli dengan hati saya. Waktu dulu itu, seperti telah berlalu berabad-abad rentangnya. Sekarang, yang tak baik hati menurut A Ling itu seperti tak mempunyai arti, dan ia menyudahinya dengan benar-benar pergi.
Karena A Ling, setelah hilang, saya meyakini Star Ferry betapa bermakna kini, juga bulan, dan Hari Lautan Kasih. Sebab A Ling pula saya masih perlu menunggunya sama dengan keteguhannya untuk mempertahankan kepercayaannya pada sakit, pada kemalangan, pada cinta yang tak lebih cuma sebuah cerita.
Bulan akan membantu saya menghadirkan Star Ferry kembali, juga A Ling. Saya akan datang besok malam. Saya pasti datang di bekas saya menemukan A Ling pertama sekali. Ya, saya akan datang lagi. Entah jam berapa.
***
Hong Kong, 07/01/07, foto by: Siska, Afandi
Artikel ini ditandai dengan tag Hong Kong, Star Ferry